Roadshow Dakwah Parenting “Baitul Qur’an Pabelan” Gelar Acara Bedah Generasi Milenial

Foto :  Dr dr Fidiansyah Sp.KJ MP   (arf-risma)

Pabelan Magelang, 9/12/2017

Kegelisahan para orang tua akan masa depan generasi mendatang, menjadi tema sentral Roadshow Dakwah Parenting di Kabupaten Magelang. Kegiatan yang dimotori oleh Manajemen Silaturahim (MS) Magelang ini, berlangsung sejak Jum’at 8-10 Desember 2017. Pihak MS sendiri menghadirkan Dr.dr.Fidiansyah,Sp.KJ,MPH, mantan Direktur RSJ Magelang yang juga pernah menjabat Kepala Pusat Kesehatan Haji Indonesia Kemenkes, sebagai nara sumber tunggal selama roadshow.

Roadshow kali ini mengambil lokasi di berbagai tempat ibadah, lembaga pendidikan, pondok pesantren, panti asuhan, RSJ dan gedung serba guna Baitul Qur’an. Berdasarkan pemantauan tim dari MS, kegiatan safari ini diminati banyak pengunjung. Tema-tema seputar manajemen keluarga yang diusung oleh nara sumber, menjadi daya tarik utama. Maklum saja Ustadz Fidi merupakan pakar di bidang kesehatan jiwa, penyakit sosial, napza, dan motivasi parenting.

Pada kesempatan roadshow di Gedung Serba Guna (GSG) Baitul Qur’an Ash Sholihin Pabelan IV Mungkid Magelang, MS berkolaborasi dengan Yayasan Ash Sholihin Pabelan Magelang yang baru terbentuk September 2017 lalu. Ustadz Fidi membawakan tema “Ketahanan Keluarga Generasi Milenial” secara menarik, komunikatif, dan solutif. Acara yang berlangsung Sabtu (9/12) pagi bakda sholat Shubuh tersebut dihadiri tidak kurang dari 200 orang, terdiri dari para takmir, guru, orang tua, santri senior, remaja, dan anak-anak usia SD.

H.Abdul Ghofur, dalam sambutannya selaku Ketua Umum Pengurus Yayasan Ash Sholihin, mengungkapkan rasa terima kasih kepada segenap pengurus MS Magelang. “Kami atas pengurus dan jamaah menyampaikan terima kasih kepada pihak MS Magelang yang telah memberikan kesempatan untuk menjadi tempat penyelenggaraan. Semoga ke depan kami masih dilibatkan dalam program lain yang tentu sangat bermanfaat”, tandasnya. Acara pagi itu merupakan kegiatan yang menandai dimulainya pemanfaatan gedung, meskipun masih dalam kondisi belum jadi. “Meskipun progres pembangunan baru mencapai 30%, namun kita coba gunakan untuk kegiatan yang bermanfaat. Agar tumbuh semangat melanjutkan pembangunan”, imbuhnya. Pihaknya menyampaikan terima kasih atas uluran infak para donatur, dan menunggu infak berikutnya, mengingat rencana biaya yang Rp 2,4 M ini masih cukup jauh dari jangkauan.

Selanjutnya pihak MS menyampaikan terima kasih kepada segenap pengurus yayasan Ash Sholihin. “Terima kasih kami sudah dapat diterima, untuk menyelenggarakan program Roadshow Dakwah kali ini. Ini semata-mata demi kepedulian kita semua akan nasib generasi mendatang”, ungkap Pak Koco Parwoto. Menurutnya, generasi sekarang menghadapi tantangan yang sangat berat dari berbagai arah. Untuk itu harus ada pemahaman dan solusi yang tepat menghadapi tantangan tersebut. “Kasus yang terakhir adalah beredarnya obat PCC gratis di lingkungan anak sekolah di Temanggung”, lanjutnya.

Foto :  Dr dr Fidiansyah Sp.KJ MPH sedang menerangkan sebuah materi kajian    (arf-risma)

Dalam pemaparannya, ustad Fidiansyah dengan mengutip seorang pakar membagi komunitas manusia dalam lima generasi. Masing-masing generasi memiliki karakter yang berbeda. “Generasi Baby Boomers merupakan angkatan yang lahir pada masa-masa Perang Dunia berkarakter berpegang teguh adat istiadat, pekerja keras, kurang suka menerima kritik. Sementara generasi X yang lahir 1961-1980 memiliki karakter suka akan resiko, mulai berfikir inovatif, pragmatis, kurang sabar, tapi lebih terbuka dengan kritik. Generasi Y lahir 1981-2000 mempunyai karakter penuh dengan ide-ide dan inovatif, akrab dengan iptek, penuh keinginan, suka mencari tantangan, dan suka meminta kritik dan saran. Selanjutnya generasi Z kelahiran 2001-2010 berpola pikir ingin serba instan, sangat bergantung pada teknologi, mementingkan popularitas dari medsos. Terakhir generasi Alpha kelahiran 2010-sekarang, mereka sudah mengenal dan berpengalaman dengan gadget, pola pikir terbuka dengan perkembangan, dan transformatif…..,” jelasnya.

Kata kunci ketahanan keluarga adalah Baiti Jannati dan Madrosati Jannati. Rumahku surgaku, sekolahku surgaku. “Wujudkan komunikasi positif dalam sebuah keluarga. Tumbuhkan rasa kangen kepada rumah, jangan sebaliknya,” ungkapnya. Menurutnya jangan sampai yang dekat jadi jauh, yang jauh malah jadi dekat. “Ini semua salah satu dampak kemajuan teknologi, baik WA, facebook, instragam, dan lainnya”, tandasnya. Lingkungan juga tidak kalah pentingnya, dalam membentuk generasi sekarang yang disebut generasi milenial. “Orang tua harus tahu anaknya bergaul dengan siapa dan bagaimana aktifitasnya di luar rumah. Jangan sampai kita sibuk dengan urusan pribadi, sehingga anak jadi korban,” tegasnya. Sediakan setidaknya waktu 20 menit saja dalam sehari, untuk berinteraksi dengan anggota keluarga.

Menanggapi pertanyaan peserta, beliau menjelaskan dampak penggunaan obat PCC yang menjadikan seseorang dapat sakau dan terhalusinasi. “Jika sudah sampai tarap ketergantungan, maka segala cara akan dihalalkan demi memperoleh obat yang berbahaya tersebut. Ini yang harus kita cegah. Jangan sampai anak kita jadi korban. Tanamkan kepada mereka untuk tidak begitu saja menerima pemberian obat-obatan tanpa petunjuk. Ajari mereka untuk mengatakan TIDAK kepada setiap orang asing yang berusaha merayunya. Bentengi mereka dengan nilai-nilai Al Qur’an dan Sunnah Rasul,” imbuhnya sebagai solusi efektif memagari anak-anak dari korban obat-obatan berbahaya.

Mari kita peduli kepada keselamatan dan masa depan anak-anak kita. Mari kita jaga lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, dan pergaulan dari bujuk rayu pihak-pihak yang sengaja menjerumuskan generasi emas milenial. Generasi Qur’ani harapan kita semua.(a.gfr-baitulqur’an)

Foto :  Dokter Fidiansyah berfoto bersama pengurus yayasan Ash-sholihin, pengurus Baitul Qur’an Ash-sholihin dan Manajemen Silaturahmi (arf-risma)

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *